Pengajian Umum Haul Syech Jumadil Kubro ke-643 Tahun 2018 Syekh Jumadil Kubro Islamkan Telatah Majapahit

Diposting Tanggal 5 October 2018

Pengajian Umum Haul Syech Jumadil Kubro ke-643 Tahun 2018 Syekh Jumadil Kubro Islamkan Telatah Majapahit


Teladan Syech Jumadil Kubro dalam menyebarkan Islam di Pulau Jawa, banyak dituturkan kembali dalam berbagai hikayat seperti babat, serat dan penuturan masyarakat. Pada Pengajian Haul Syech Jumadil Kubro ke-643 Tahun 2018 yang diperingati pada Jumat (28/9) malam lalu di pelataran Makam Troloyo Trowulan, Wakil Bupati Mojokerto Pungkasiadi, mengajak semua untuk meneladani kisah tokoh besar yang luar biasa ini.
"Kisah Syech Jumadil Kubro sebagai Punjer Wali Songo, kita ketahui dari berbagai hikayat seperti babat, serat dan penuturan masyarakat. Teladannya patut kita contoh, khsusunya dalam mengislamkan telatah Majapahit,” kata wabup.

Syech Jumadil Kubro yang menurut literatur masih dalam satu garis generasi ke-enam Nabi Muhammad SAW, mengembara ke tanah Jawa bersama para santrinya dan singgah di Trowulan untuk kemudian melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi demi menghindari kemurkaan raja-raja Jawa yang belum mengenal apa itu Islam saat itu.

Selanjutnya komunitas muslim di kota-kota pelabuhan Majapahit, menjadi penanda pesatnya perkembangan Islam pada jamannya. Laju kemajuan IPTEK yang cepat di bidang agama Islam kemudian melahirkan kaum santri kritis, progresif dan transformatif. Mereka juga melakukan lompatan budaya dan intelektual yang sangat maju. Demi mengenang jasa para penyebar Islam di bumi Majapahit, Pemerintah Kabupaten Mojokerto pada tahun 2016 telah membuat buku Punjer Walisongo yang sudah dikaji dan dirumuskan dalam seminar lokakarya. Haul Syech Jumadil Kubro yang diperingati tiap tahun, diharapkan dapat melestarikan budaya, syiar Islam dan mendongkrak potensi wisata religi.

Syech Jumadil Kubro sendiri lahir pada tahun 1270 sebagai putera Ahmad Syah Jalaluddin, bangsawan dari Nasrabad di India. Kakek buyutnya adalah Muhammad Shohib Mirbath dari Hadramaut yang bergaris keturunan ke Imam Jafar Shodiq, keturunan generasi ke-enam dari Nabi Muhammad SAW. Setelah mundur dari jabatannya sebagai Gubernur Deccan di India, Jumadil Kubro mengembara ke berbagai belahan dunia untuk menyebarkan agama Islam.

Literatur juga menyebut Syech Jumadil Kubro berkelana keliling dunia sampai ke Maghribi di Maroko, Samarqand di Uzbekistan lalu sampai ke Kelantan di Malaysia, kemudian ke Jawa pada era Majapahit dan akhirnya sampai ke Gowa di Sulawesi Selatan.
Syekh Jumadil Kubro wafat dan dimakamkan di Trowulan sekitar tahun 1376 masehi. Dari sedikit ulasan sejarah panjang seorang tokoh besar penyebar Islam di Jawa, tidak heran jika sejarah hidupnya banyak dikenang dan diingat hingga kini.

Rangkaian acara peringatan Haul Syech Jumadil Kubro, sebelumnya sudah diawali dengan acara besar yakni Kirab Kubro pada Kamis siang (27/9). Seperti dilaporkan Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Mojokerto, Djoko Widjayanto.  "Rangkaian Peringatan Haul Syech Jumadil Kubro sudah dilaksanakan sejak kirab kubro dari Pendopo Agung Trowulan dan finish di pelataran makam Troloyo, Kamis (27/9) siang. Animo masyarakat tetap tinggi seperti tahun lalu, khusunya tradisi berburu berkah gunungan tumpeng yang diarak. Hingga dilanjutkan acara malam ini yakni acara semaan dan khotmil Quran, yang ditutup dengan pengajian umum oleh K.H. Achmad Chalwani Pengasuh Ponpes An Nawawi, Jawa Tengah," lapor Djoko.

Hadir juga mendampingi wakil bupati antara lain Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto, Herry Suwito, Kepala OPD, serta para alim ulama.